Wisata Sejarah ke Landmark Menteng

Wisata Sejarah ke Landmark Menteng

Ribuan bangunan tua berdiri di Jakarta. Namun hanya sekitar 200–an bangunan bersejarah yang telah dilindungi atau dikonservasi. Beberapa diantaranya  gedung peninggalan era kolonial di kawasan Menteng.  Bersama Sahabat Museum, saya ikut  berwisata sejarah  menyambangi  bangunan cagar budaya. Seperti apa kondisinya? Apakah seluruh bangunan yang menjadi landmark atau penanda kota  dalam kondisi terawat?

Peserta wisata sejarah berfoto di gedung Kunstkring era kolonial (Foto-foto koleksi penulis)

Delapan puluhan  orang berkerumun di halaman Masjid Cut Meutia,  Menteng,  Jakarta, Minggu (20/11) silam. Mereka adalah peserta acara Plesiran Tempo Dulu yang digagas komunitas pecinta sejarah, Sahabat Museum.  “Selamat pagi, sudah sarapan semua ya. Jadi tidak ada yang lemes ya saat jalan-jalan. Saya Nadia dari Pusat Dokumentasi Arsitektur. Hari ini  mudah-mudahan saya bisa memuaskan rekan-rekan semua menceritakan tentang Menteng dan 4 gedung yang akan kita datangi pagi ini.”

Nadia Purwestri didapuk Sahabat Museum sebagai pemandu wisata. Ada 4 gedung peninggalan era kolonial dan masa Pemerintahan Soekarno yang akan disambangi. Diantaranya NV. De Bouwploeg , Kunstkring, dan Bank Industri Negara.

Nadia Purwestri (sebelah kiri) dari Pusat Dokumentasi Arsitektur.

Gedung bersejarah pertama yang dikunjungi adalah Bouwploeg.  Lokasi gedung ini tak jauh dari Stasiun kereta api Gondangdia, atau berada di Jl. Cut Meutia. Bangunan yang dindingnya didominasi cat putih, ini dirancang sendiri oleh Moojen  sekitar  1910.  “Moojen adalah arsitek Belanda yang datang ke Indonesia pada akhir abad 19. Untuk mulai pembangunan Menteng Moojen membangun gedung ini. Gedung yang sekarang menjadi Masjid Cut Meutia ini awalnya adalah kantor developernya Menteng. Dia yang merencanakan Menteng pertama kali. Dia yang ditunjuk Pemerintah Kota  Batavia untuk merencanakan sebuah kawasan perumahan,” jelas Nadia.

Gedung Bouwploeg tampak depan

Dari gedung inilah, wilayah Nieuw-Gondangdia atau kemudian disebut Menteng mulai ditata dan dibangun. Sebelum menjadi tempat ibadah, pada masa Orde Lama gedung ini pernah dipakai Dinas Perumahan. Di awal era Orde Baru, bangunan ini nyaris dirobohkan. Namun rencana itu ditentang Jendral Nasution. Ia  mengusulkan agar bangunan dilestarikan. Hingga kemudian dipakai oleh Kantor Urusan Agama, sekaligus untuk kegiatan peribadatan. Sejak 1985 berubah menjadi Masjid Cut Meutia hingga sekarang.  Sebelum dipergunakan sebagai masjid, di ruang  utama masih terdapat tangga lebar untuk mencapai ruang-ruang kantor di lantai dua. “Jadi ada pergantian kepemilikan. Dari kantor menjadi masjid. Jadi mau tidak mau  menuntut ada penyesuaian dari bangunan itu. Contohnya tangga di dalam di ruang utama yang di dalam yang dipindahkan ke luar,”tutur Nadia.

 Jejak sejarah bangunan ini masih terlihat. Bekas ruangan kerja  misalnya berlangit-langit tinggi dan berjendela besar. Cahaya cukup sangat penting bagi arsitek yang bekerja didalamnya.  Sirkulasi udara mengalir dengan baik dengan adanya ruang tengah yang tinggi. Udara panas dapat keluar melalui jendela-jendela di bawah kubah atapnya. Usai menengok interior gedung Bouwploeg, peserta menuju bangunan sejarah berikutnya.

Kuntskring: Awal Arsitektur Modern Indonesia

Lokasi gedung Kunstkring yang diarsiteki Moojen, berada persis di muka Jalan Teuku Umar. Berjalan kaki, dari  gedung Bouwploeg atau Masjid Cut Meutia butuh waktu beberapa menit saja.  Bangunan ini, jelas Nadia  bisa dikatakan sebagai salah satu landmark atau penanda  kawasan elite tersebut. “Bangunan ini dibangun sebagai kantor  Nederland Indische Kunstkring, perkumpulan pecinta seni yang ada di Batavia. Dibangun di awal abad 20. Bangunan ini yang unik punya 2 pintu masuk, pintu masuk pertama  yang berada di depan kita  Dan yang lainnya yang ada di sebelah barat,”ungkap Nadia.

Bagian depan gedung ini dihiasi dua menara beratap kubah dan tiga pintu masuk yang  diapit dua jendela. Sementara bangunan bagian atas dihiasi lima balkon. Moojen menghasilkan bentuk bangunan sederhana namun apik dan asri. Beberapa detail menarik untuk diamati misalnya  lengkungan di atas pintu masuk, deretan balkon di atas pintu utama, serta lampu bergaya dekoratif.

Interior gedung  dirancang indah antara lain menggunakan lapisan kayu gelap. Pada masanya arsitektur gedung ini diacungi jempol para penikmat seni bangunan.  Pada 1923 ada arsitek top yang juga bapak arsiteknya Belanda, Hendrik Petrus. Dia datang ke Hindia Belanda  melihat  gedung gedung.Saat dia melihat gedung ini,  dia mengatakan  ini adalah awal arsitektur modern di Indonesia,” jelas Nadia.

Pada masa kemerdekaan bangunan ini sempat dijadikan  Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Setelah diambil pihak swasta, Kunstkring kini  berubah fungsi sebagai resto dan tempat kongkow kaum berduit.  Setelah puas mata dimanjakan keelokan arsitektur Kunstkring, peserta menuju bangunan bersejarah era Soekarno.

Gedung BIN Besutan Silaban

Hujan gerimis mulai singgah di kawasan Menteng. Namun langkah peserta tak surut. “Bapak, Ibu sekalian kita berada di Gedung BIN. Hati-hati diciduk (tertawa). Ini adalah gedung Bank Industri Negara,” seloroh panitia acara.

Lokasi gedung Bank Industri Negara yang kini dipakai salah satu bank BUMN tersebut berada di Jalan RP Soeroso. Seorang panitia menjelaskan bangunan ini diarsiteki Fredrich Silaban.  Ia adalah salah satu arsitek kenamaan yang dimiliki Indonesia jelas Nadia Purwestri yang menjabat Direktur Eksekutif  Pusat Dokumentasi Arsitektur tersebut. “Pada masa itu Soekarno membuat bangunan yang besar-besar. Misalnya Masjid Istiqlal, Gedung Pola, dan Stadion Gelora Bung Karno. Itu bisa dikatakan proyel mercusuar. Tujuannya ingin mensejajarkan bangsa Indonesia dengan bangsa lain. Nah salah satu arsiteknya yang membangun bangunan besar itu  adalah Silaban.”

Peserta berada di lobi gedung BIN karya arsitek F.Silaban

Silaban membangun Gedung Bank Industri Negara  pada 1950-an. Arsitektur bangunan disesuaikan  dengan udara tropis. Ini ditandai dengan banyaknya lubang angin  bermotif geometris. Sementara di salah satu sudut ruang lobi, dibangun tangga melingkar yang indah.

“Arsitektur ini adalah arsitektur modern.Tidak ada ornament sama sekali. Makanya kenapa tangganya dibuat menarik.Walaupun tanpa ornament, sudah membuat ruangan ini indah dengan tangganya,” jelas Nadia.

Kondisi 3 bangunan bersejarah tersebut, harus diakui sangat terawat. Pengunjung nyaman menikmati keindahan arsitektur yang disajikan gedung-gedung tersebut.  Namun tak semua bangunan tua bersejarah di Jakarta terawat.

Bangunan Sejarah: Merawat Jati Diri Bangsa  

Peluh membasahi kening Nayla. Bocah 8 tahun itu begitu bersemangat mengikuti acara Plesiran Tempo Dulu  bersama ibu dan kakaknya. Tak hanya Nayla dan keluarganya yang senang bertandang ke gedung-gedung bersejarah di Menteng, Jakarta. Kesan serupa juga dirasakan peserta lainnya. “Acaranya menarik ya. Mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita lihat dan kunjungi tapi tak tahu sejarahnya, “ aku Andreas. “Pertama pengetahuan. Indonesia kan luas saya ingin tahu banyak tempat,”ungkap Cici . Saya penggemar sejarah. Supaya kaum muda ini bisa menghargai sejarah, perjuangan bangsa dsb,” jelas Johny.

Para peserta terlihat antusias. Mereka tak segan bertanya jika masih ada pertanyaan yang mengganjal dipikiran. Lewat acara ini diharapkan kesadaran masyarakat untuk peduli kepada bangunan sejarah semakin tinggi, jelas Ade Purnama, Koordinator Sahabat Museum. “Yang bisa kami lakukan adalah memberikan penyadaran pelestarian bangunan sejarah kepada masyarakat. Tingkat kesadaran masyarakat kita (terhadap bangunan sejarah) juga masih rendah. Jangan kita bandingkan (kesadaran) masyarakat di sini dengan masyarakat di Eropa atau Amerika yang sudah tinggi. Ada banyak factor yang sebabkan kesadaran masyarakat kita terhadap pelestarian bangunan bersejarah masih rendah,”

Ade Purnama, Koordinator Sahabat Museum (kiri)

Tak hanya di Jakarta, sejak 2003 ungkap Ade, mereka telah berkeliling ke berbagai pelosok nusantara  menggali tempat-tempat bersejarah. Bangunan bersejarah selain menarik dipelajari, juga penting  bagi masyarakat dan pemerintah. “Itu sebagai landmark kota. Misalnya kalau kita berada di Menteng:”Itu loh yang deket gedung Bouwplog”.   Itu sebagai penanda (sebuat kota). Identitas kota. Ini penting. Kami berpendapat itu penting dan dipelihara, dilestarikan. Dia bisa menjadi ikon kota.”

Selain itu masyarakat dapat mengetahui perjalanan sejarah arsitektur, timpal Direktur Eksekutif  Pusat Dokumentasi Arsitektur,  Nadia Purwerstri.   “Kalau dilihat dari perjalanan sejarah  dari sisi arsistektur   Indonesia mulai dari arsitektur klasik seperti adanya candi.Kemudian  yang terpengaruh pada masa Islam, kemudian arsitektur tradisional yang benar benar lokal dan masa kolinial mulai dai benteng sampai bangunan yang modern seperti bangunan yang ada di Menteng dst sampai masa kemerdekaan. Kenapa kita harus lestarikan ini  karena sejarah itu kan membentuk jati diri bangsa kita.  Jadi kalau kita tetep jaga bangunan ini,  jati diri bangsa kita tetap terjaga.”

Namun tak semua bangunan bersejarah yang nasibnya terurus seperti di kawasan Menteng. Sebut saja bangunan yang ada di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat. Berdasarkan data Balai Konservasi Benda Cagar Budaya di Kota Tua terdapat hampir 250 bangunan tua sisa peninggalan kolonial dan Cina yang masih berdiri.

Sejumlah atap bangunan di Kota Tua terlihat rusak atau bangunan yang mulai kropos dimakan zaman. Pemilik bangunan emoh merawat. Sebagian tak lagi tinggal di sana akibat trauma pasca kerusuhan  yang  melanda kawasan Pecinan tersebut pada Mei 1998 silam. Saat itu sejumlah bangunan dirusak dan dibakar massa. Kepala Balai Konservasi Benda Cagar Budaya, Pemprov DKI Jakarta Candrian Attahiyyat. “Banyak orang-orang Cina yang nampaknya rada enggan melestarikan. Karena alasan politis. Karena biasanya bangunan yang bergaya Cina di Gelodok dan sekitarnya mereka trauma dengan huru-hara.”

Sebagian bangunan bahkan sudah dijual, beralih kepemilikan.  Ketua Paguyuban Kota Tua Jakarta, Jacky Sutiono ikut berkomentar. “Mengapa bangunan tua di sini ditinggalkan, karena tak ada nilai ekonomisnya. Tak ada kehidupan. Ini yang paling penting. Kalau di sini ada kehidupan, semua akan berlomba-lomba memperbaiki gedung tuanya.”

Agar kehidupan di Kota Tua terus berdenyut,  salah satu upaya yang bisa dilakukan Pemprov DKI, kata Jacky  dengan cara memperbaiki manajemen lalu lintas.  Ini perlu dilakukan agar kendaraan tak seenaknya melintas  atau parkir di kawasan bisnis dan cagar budaya tersebut. “Kalau di kawasan Kota Tua dibikin Ring Road orang mau ke Kota Tua tidak bisa seenaknya lewat jalan di bawahnya. Sebab ini akan dilewati para pengunjung Kota Tua. Apa yang dibenahi? Saya minta kepada pemerintah no 1 nya adalah benahi traffic management-nya.”

Jacky optimistis jika lalu—lintas tak lagi semerawut, bangunan di Kota Tua akan semakin dilirik wisatawan dalam dan luar negeri.  Merawat bangunan bersejarah memang tak mudah seperti membalikan telapak tangan.  Perlu dukungan semua pihak. “Masyarakat, pemilik (bangunan bersejarah) ikut bertanggung jawab. Meski demikian Pemprov DKI bersikeras melestarikan bangunan-bangunan tersebut. Contohnya bangunan Cina di Gelodok. Memang sudah berkurang sekarang. Tetapi Pemprov DKI tak hanya melestarikan secara arsitektural, tetapi kehidupan budaya Cina di sana tetap berlangsung,” jelas Candrian.

Ketidakpedulian membuat bangunan  bersejarah hancur dimakan zaman. Atau lenyap,  dikalahkan  kepentingan ekonomi.  “Kenapa kita harus lestarikan ini  karena sejarah itu kan membentuk jati diri bangsa kita.  Jadi kalau kita tetep jaga bangunan ini,  jati diri bangsa kita tetap terjaga.”

(MTBW)