Si Gelang Berpaku dan Wartawan Wartel

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan

Yang kedua dilahirkan tapi mati muda

Dan yang tersial adalah berumur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

(Dikutip dari Buku Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie)

Rezki Hasibuan, 3 Mei 2004 (Foto-foto: koleksi Agus Lukman)

Hari masih pagi. Waktu menunjukan pukul 6.30 WIB. Ruang redaksi KBR68H masih sepi. Seorang anak muda  tengah mengamati layar komputer. Tubuh tambunnya dibalut kaus  hitam dan celana jeans. Rantai pengait dompet menjuntai di sekitar pinggang. Pergelangan tangan kirinya dihiasi sebuah gelang kulit hitam berpaku.

Telunjuk kanannya lantas  memijit nomor telepon. Tangan kirinya menggenggam gagang telepon. Saya mendekat. Duduk di sebelah kanan. Menggoda seraya mengomentari singkat gelang berpakunya. Ia hanya tersenyum, selebihnya  tak ada pembicaraan soal aksesoris tersebut . “Oh, mungkin waktu yang tak tepat untuk bertanya,” pikir saya. Kami berdua lantas tenggelam dalam kesibukan masing-masing.

**

Kenangan itu yang saya ingat, kali pertama mengenal almarhum M. Rezki Perdana  Hasibuan (28 Mei 1976 – 23 Oktober 2011). Kejadiaan itu berlangsung sekitar medio 2003. Tahun pertama saya bergabung di KBR68H. Saat itu saya dan Kiki – sapaan akrabnya- tengah bertugas sebagai asisten produser program Sarapan Pagi. Sebuah program unjuk wicara (talk show)  beragam tema aktual, mulai pukul 6.30 hingga 9 WIB.

Saya berprasangka baik saja jika Kiki tak merespon gurauan tadi.  Candaan itu sekadar memecah kebekuan. Maklum saat itu saya belum begitu kenal dengan lelaki berkaca mata minus itu. Dari kejadian singkat itu—kesan pertama saya — ia  tipe pekerja yang serius, sedikit kaku dan tak mudah langsung bisa berinteraksi dengan orang baru. Tentu tak ada yang salah dengan itu semua.

Sebagai reporter mula,  saya ditempatkan di desk ekonomi. Kiki ditempatkan di desk hukum. Pos liputannya  seperti Kejaksaan Agung atau Mabes Polri. Pertemuan kami di kantor  sekadar “say hello”. Nyaris tak ada interaksi dan perbincangan yang intens. Sistem desk  seperti mengkotak-kotakan reporter. Beberapa tahun kemudian sistem ini  dihapuskan di newsroom KBR68H.  Diganti sistem superdesk.   Situasi ini membuat sesama reporter relatif lebih intens berinteraksi .

**

7 September 2004, tersiar kabar aktivis Hak Azasi Manusia Munir Said Thalib tewas dalam pesawat Garuda yang membawanya dari Jakarta menuju Amsterdam, Belanda. Saat itu Cak Munir akan melanjutkan studi di negeri kincir angin tsb. Hasil visum menyimpulkan ia tewas diracun arsenik. Pemufakatan jahat ini diduga melibatkan kalangan intelijen. Kasus Munir “mempertemukan” saya dan Kiki.  Usai liputan sesekali kami berbincang santai seputar hasil reportase kasus Munir. Sumbernya bisa dari pengadilan, Komite Aksi Solidaritas untuk Munir (Kasum), Mabes Polri atau Kejaksaan Agung.

Kiki  begitu semangat meliput kasus ini. Terkadang ia menumpahkan  kekesalan dan rasa geramnya terhadap lembaga penegak hukum yang dinilai tak serius  membongkar kasus tsb.  Waktu terus berlalu. Sampai kini dalang pembunuh Munir— yang diduga melibatkan petinggi Badan Intelijen Negara (BIN)—masih belum terungkap. Salah satu pelaku lapangan yang terlibat dan  sudah di vonis  pengadilan adalah  bekas pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto. Ia kini mendekam di penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

**

Kenangan lain yang saya ingat dari Kiki adalah  celotehannya tentang “Wartawan Wartel”. Sebutan itu merujuk kepada reporter yang lebih banyak bekerja di dalam kantor. Karena alasan tertentu—reporter yang semestinya mencari berita dan melaporkan dari lapangan— “terpaksa”  mewawancarai nara sumber via telepon.  Situasi ini terjadi kalau tak banyak acara yang bisa diliput.   Koordinator liputan  lantas menugaskan para reporter  membuat berita dari kantor.  Mereka lantas  antre  wawancara di dua bilik studio yang menyerupai warung telekomunikasi (wartel).

Kiki pernah menyampaikan  kegundahannya tersebut. “Selayaknya reporter lebih banyak bekerja di luar. Bukan ngendon di dalam kantor,” ujarnya gusar. Tujuannya agar intuisi  sebagai jurnalis  semakin mantap. Alasan lain agar reporter bisa bertemu dan bertatap muka langsung dengan nara sumber. Berkomunikasi langsung akan lebih baik dari pada sekadar berbincang melalui telepon.   Penjelasan Kiki bisa ada benarnya juga. Tapi saya juga memaklumi jika korlip—dalam situasi tertentu— memiliki  pertimbangan tugaskan reporter di kantor.

Rezki Hasibuan (kemeja biru) di ruang redaksi pada 2009 mengamati berita di layar kaca. ( Foto: MTBW)

**

Kiki seorang pecinta musik rock. Jika usai liputan ,  dari headphone –nya lamat-lamat terdengar alunan musik hard rock yang melodius sampai yang  menghentak-hentak  “sulit dicerna” telinga. Disela-sela pekerjaannya, sesekali ia  bertukar pendapat seputar music cadas.  Penggemar  punk rock ini begitu fasih menjelaskan lagu sampai kiprah band rock era 70 sampai 90-an. Saya kagum dengan pengetahuan musik rock-nya. Personil band Evil’s Tea itu   sangat menyukai lagu-lagu  dari band  The Ramones sampai Sex Pistols. Karena kecintaanya pada punk,  Kiki pernah membuat  feature radio  seputar komunitas musik punk.

Selain dikenal sebagai punker, Kiki  juga seorang kritikus musik  yang tajam. Simak penggalan opininya bertajuk: “Birokrat Larang Musik Keras, Takut Anak Muda Kritis?”. Tulisan yang dimuat di blog pribadinya endonesyasucks.blogspot.com  tersebut menggugat  kebijakan Pemprov Jawa Barat yang sempat  melarang pertunjukan musik independen (underground) . Larangan ini dilatarbelakangi dengan tewasnya sejumlah penonton saat  pagelaran musik cadas  di Bandung beberapa tahun silam.

“Pikiran saya kemudian tertuju kepada sepotong kalimat di Pos Kota yang mengatakan musik “Underground” akrab dengan kerusuhan dan minuman keras. Bukankah musik dangdut dan ajep-ajepnya House Music di diskotik juga begitu?. Bahkan kaum clubers disebut-sebut akrab dengan narkotika jenis ekstasi dan heroin. Sementara anak-anak Metal dan Punk itu paling hanya akrab dengan Anggur Cap Orang Tua.

Bagi mereka lebih baik membuang uang untuk membuat musik ketimbang beli obat-obatan mahal seperti ekstasi apalagi putauw. Saya bicara seperti ini karena saya pernah menjadi bagian dari mereka, bahkan hingga kini saya masih mendengarkan Slayer, Kreator dan Megadeth di Mp3 Player saya. Saya kemudian menduga , bukan kerusuhan dan minuman kerasnya yang mereka takutkan, tapi anak-anak Metal dan anak-anak Punk ini memang bibit–bibit kaum kritis yang sudah mulai mengkespresikan pemberontakan mereka akan pemerintah dan nilai-nilai hipokrit kaum birokrat melalui lagu.

Ini bukan mengada-ada, pada 1998 saya pernah nyebur ke komunitas Jakarta Punk. Usai Soeharto jatuh saya menobatkan diri sebagai Punkers.. Saya ambil keputusan itu setelah saya ngeband bareng Wendi Putranto di band yang bernama “Genius Crime”. Lirik-lirik kritis lagu band Punk Amerika “Bad Religion” yang sering kita bawa membawa saya kepada keputusan ,”jika kamu mau menyatukan politik dan musik, you have to be a punkers”. Puja puji saya kepada Grunge, Hair Metal, Jimmi Hendrix dan Jimmy Page saya tinggalkan dulu. Gantinya saya penuhi isi otak saya dengan musik musik tiga jurus tapi punya lirik yang kritis seperti “Bad Religion” itu.

Seiring dengan itu saya malah semakin gila-gilaan “turun ke jalan” meneriakkan yel yel Anti Orde Baru, dan Anti Habibie. Bahkan semakin aktif di organiasasi dan pers mahasiswa. I become a real rebellion!. Saya pun kemudian bersama dengan teman-teman saya termasuk sang pencetus Brainwashed Fanzine , Wendi Putranto yang kini menjadi jurnalis Rolling Stone meluncurkan Brainwahed Fanzine Vol .7, majalah musik keras yang mencampur adukkan politik dan musik. Disamping itu saya juga semakin tertarik membedah lirik –lirik musik keras dan hey!, lirik musik Metal juga begitu, Pantera, Anthrax dan Megadeth juga sering membicarakan kritik sosial dan lirik lirik cercaan terhadap kaum birokrat.”

**

Pertemuan terakhir  saya  dengan almarhum berlangsung di ruang redaksi sekitar bulan Agustus 2011. Wajahnya  tirus dan bobot tubuhnya berkurang drastis. Ini akibat penyakit ginjal  dan cuci darah yang menggerus  tubuhnya. Nyaris saja tak mengenalinya. Sempat bertanya-tanya apakah ia sudah sehat sehingga datang ke kantor?  Tapi pertanyaan itu  saya simpan.  Saya sapa, salami dan berharap cepat dipulihkan dari penyakitnya. Siapapun tak akan  tahu kapan maut menjemput.  Senin petang 23 Oktober 2011 mendapat kabar melalui telepon dari seorang teman: Kiki telah wafat.  Inna lillahi wa inna ilayhi raji’una. Manusia telah  berupaya, tapi Tuhan jualah yang  menentukan.

Saya  kehilangan seorang teman yang kritis, militan dan konsisten sebagai jurnalis yang tak mudah “dibeli”. Seorang teman yang kerap gusar dan gelisah dengan kebijakan pemerintah yang dinilai belum berpihak kepada rakyat. Seorang teman yang di tengah kesibukannya, enjoy menikmati musik rock n’roll. 

Selamat jalan bro. Integritas dan karyamu sebagai jurnalis akan dikenang dan tak pernah mati. (Fik)