Hidup Baru Para Teroris

“Ketika (dulu) kita makan sambil megang M16, sekarang kita megang garpu-sendok. Senpi (senjata api) juga. Cuma ini sendok dan piring…”

Yusuf, bekas terpidana kasus terorisme. Kini berprofesi sebagai koki.

Data Kepolisian Indonesia menyebutkan sampai 2010, lebih dari 500 orang ditangkap terkait kasus terorisme. Sekitar separuhnya telah dibebaskan. Sebagian kembali lagi terjerat kelompok terorisme, lantaran tak ada program rehabilitasi untuk mengikis ideologi kekerasan yang selama ini bercokol. Yayasan Prasasti Perdamaian hadir, membantu para bekas teroris menata hidup baru mereka, bebas dari aksi terorisme.  Bulan Mei 2011 silam, Taufik Wijaya datang ke Jawa Tengah, menengok kafe dan tambak ikan yang kini mereka kelola.

Hidup Baru

Kawasan Simpang Lima di Semarang, Jawa Tengah, adalah jantung ibukota. Di sebuah restoran, seorang laki-laki tampak sibuk mengiris cabai dan tomat. “Ok saya tambah lomboknya. Barangkali ada yang suka agak pedes kali. Ini bistik iga bakar sapi. Ciri khas dari Dapoer Bistik.”

Namanya Machmudi Hariono, disapa Yusuf. Ia adalah pengelola Dapoer Bistik. Bangunan dua lantai ini tak terlalu besar, total ada 10 meja tersedia. Sebagian besar dinding pun belum dicat.

Yusuf baru keluar dari penjara dua tahun lalu, terkait kasus terorisme. “Ya kita kan dalam proses kembali ke tengah masyarakat kan perlu proses. Saya juga tak menyangka kalau harus melalui jalan seperti ini saya lebih akrab dengan umat dengan masyarakat. Seiring saat kita bertahan hidup di hutan pun kita juga pun sering memasak binatang buruan, seperti rusa. Semuanya juga menggunakan bumbu-bumbu yang tak jauh beda. Cuma khasnya saja yang berbeda. Ketika kita makan sambil megang M16, sekarang kita megang garpu-sendok. Senpi (senjata api) juga. Cuma ini sendok dan piring. Ha ha ha..”

Noor Huda Ismail (sebelah kanan) Direktur Eksekutif Yayasan Prasasti Perdamaian

Yusuf adalah veteran perang yang tergabung dalam Front Pembebasan Islam Moro MILF, yang berbasis di Mindanao, Filipina. Sekembalinya ke Indonesia pada 2002, ia bertemu Mustofa yang mengaku sebagai pengusaha. Setahun berikutnya, Mustofa bersama jaringannya diringkus aparat, begitu pula Yusuf. Mereka terbukti menyimpan bahan peledak di kontrakan milik Mustofa.

“Kita dapati semua bahan peledak, dokumen, senjata api dan semua jenis amunisi. Kita diindikasikan sisa-sisa dari kasus Bom Bali 1. Barang-barang itu diklaim (aparat) sebagai sisa sisa bom Bali I. Dalam persidangan semua pengakuan barang barang tsb berasal dari Poso dan Ambon. Jadi mungkin diamankan asetnya.”

Yusuf divonis 10 tahun penjara. Karena berkelakuan baik, sekitar lima tahun kemudian, Yusuf bebas. “Saya tahu sejak awal (napi) kembali ke masyarakat sulit. Karena perlu wadah. Wadah di sini itu usaha nyata yang berkait dengan pekerjaan. Yang mana pekerjaan itu secara otomatis harus berinteraksi dengan masyarakat, yang mengetahui title kami sebagai teroris. Ketika umat menerima kami dengan baik. Tentunya itu kehidupan yang lebih baik buat kami.”

Yusuf mengaku jera terlibat aksi terorisme. Ia bilang akan berpikir dua kali jika ada pihak tertentu yang mengajaknya terlibat kembali tindak kekerasan atas nama agama.Yusuf ingin menafkahi keluarga dari usaha yang halal. Dan meluangkan sebagian waktu membesarkan anaknya yang berusia hampir dua tahun.

Kini Yusuf mengelola bisnis makanan ‘Dapoer Bistik’ bersama 10 karyawannya, sejak setahun silam. “Bistik iga bakar sapi, favorit menu yang kita hadirkan untuk masyarakat Semarang.”

Pengunjung puas dengan kualitas makanan di restoran ini. “Rasanya mantap!” kata Rina. “Hampir sudah saya coba semuanya. Yang belum mungkin hanya kepiting,” lanjutnya.

Inilah hasil dari program pendampingan ekonomi bagi napi kasus terorisme yang digagas Yayasan Prasasti Perdamaian. Direktur Yayasan, Noor Huda Ismail mengatakan,“Saya tak pernah sebut program ini program deradikalisasi. Tapi saya sebut sebagai program disengaged. Mencoba memisahkan orang-orang ini dari cara kekerasan untuk capai tujuan politik. Jadi bukan deradikaliasi. Karena tak masalah orang berpikir radikal, gak masalah kan? Jadi ini program memberi kesempatan kedua setelah mereka terlibat dalam aksi kekerasan.”

Kesempatan kedua kini juga dicecap Harry Setia Rahmadi. Harry pernah divonis penjara 5 tahun oleh Pengadilan Negeri Semarang. Dia dituduh menyembunyikan gembong teroris. “Pada Januari 2007, saya kedatangan tamu dua orang yang mengaku dari Densus 88 (Anti Teror). Saya dituduhkan pasal 13, yaitu menyembunyikan informasi tentang Noordin M Top.”

Ia mengaku dijebak. Kini Harry mengelola tambak ikan dan udang, dimodali Yayasan Prasasti Perdamaian. “Kebetulan saya lulusan Ekonomi Manajemen dari Undip Semarang, lulus tahun 2000. Saya berpikir ekonomi. Kebetulan saya dan Pak Huda memiliki visi yang sama.”

Hari setuju mengelola tambak bersama Yayasan Prasasti Perdamaian karena ia ingin sekaligus mengurus anak-istrinya. Ia juga mengaku punya kesamaan pandangan, seputar pemberdayaan ekonomi bekas teroris yang baru keluar penjara. “Jadi kesepakatan kita dengan Pak Noor Huda adalah kita hanya bersifat ekonomi bisnis.  Soal aqidah (urusan) you, masing masing. Lu, kalau mau “ikut lagi” silahkan. Tapi jangan libatkan kami (yang sudah ikut dalam program pemulihan YPP.”

Tambak seluas 3 hektar di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ini memang belum berbuah manis. “Memang belum sesuai harapan. Lebih karena faktor alam. Karena tanah yang kena hujan masuk ke air dan air menjadi asam. Sehingga meracuni ikan dan udang di sana.”

Dari meja dapur sampai tambak ikan, mereka yang pernah dipenjara untuk kasus terorisme ini membuka lembaran hidup yang baru. Mengingat latar belakang kekerasan yang mereka punya, apakah program ini berhasil mengikis ideologi kekerasan yang melekat?

Memutus Ideologi Kekerasan

Malam itu, Noor Huda Ismail tengah membicarakan soal kartu nama untuk usaha Kafe Kongkow, yang dikelola Yayasan Prasasti Perdamaian bersama Yusuf, bekas teroris.

Kafe ini adalah bisnis lain yang dijajaki Yayasan Prasasti Perdamaian bersama bekas napi kasus terorisme. Letaknya di daerah Tembalang, Semarang, tak jauh dari kampus Universitas Diponegoro. “Karena di usaha kafe kita tak bisa pilih konsumen. Siapa yang datang mesti dilayani. (Berpenampilan) seksi, bule, jilbab atau sebaliknya. Dengan teologi seperti ini saya harapkan (bekas napi teroris) akan inklusif dengan sendirinya.”

Pemulihan kembali bekas terpidana kasus terorisme adalah salah satu program kerja lembaga ini. Tujuannya selepas hidup di penjara, mereka tak kembali terseret aksi teror, kata Direktur Yayasan Prasasti Perdamaian Noor Huda Ismail. “Jadi ini program memberi kesempatan kedua kepada mereka. Satu, oleh kelompok mereka sendiri mereka dipinggirkan, karena dinilai sudah tak bersih. Kedua, oleh masyarakat mereka distigma sebagai teroris. Padahal orang yang terlibat terorisme itu tingkat keterlibatannya berbeda-beda.”

Huda melanjutkan, “Kalau alasan yang saya pilih mengapa ekonomi, karena kan sebuah program pendampingan ini kan harus mandiri dan berkelanjutan. Tidak bergantung kepada pihak lain. Bergantung kepada negara? Negara saja tak bisa urus dirinya sendiri. Kami ingin memberikan harapan dan mimpi kepada mereka. Mereka bisa lihat dengan jernih ada anak yang perlu disekolahkan. Oh, kalau istri ditinggalkan akan rewel juga. Jangan dibayangkan ini sebuah proyek besar dengan perencanaan. Tidak. Ini adalah sebuah program saya sebagai bagian masyarakat sipil yang ingin memanusiakan manusia.”

Noor Huda mengaku terinspirasi program serupa dari sebuah lembaga di Irlandia Utara. “Indonesia sudah (terjadi aksi teror) bom sejak tahun 2000-an. Selama ini kan negara hanya ngomong:”Kita akan melakukan begini, begini…”. Sudah 10 tahun ngomongnya akan melulu. Mungkin karena keinginan politik dan kepentingan yang bermain sehingga program seperti ini tak jalan. Nah saya ke Irlandia Utara, di sana ada sebuah program yang mengintegrasikan mantan kombatan (perang) (IRA) ke masyarakat. Saya terinspirasi dan mulai program itu.”

Program tersebut mencoba mengintegrasikan bekas kombatan Irish Republican Army atau Tentara Republik Irlandia (IRA) bersama masyarakat.

Peserta Program

Sejak 2007 berjalan, baru 10 bekas napi kasus terorisme yang ikut program ini. Tak mudah mengajak mereka, kata Huda. “Saya tak pernah mencari mereka. Kenapa? Kalau saya yang mencari (dan merekrut) mereka, dipikir nanti aku “nginteli” mereka. Nah makanya saya bilang, kalau mau membuka lembaran hidup baru, mari ikut saya. Kalau mau “main-main” ya kamu akan bertemu Densus (Detasemen Khusus Anti Teror 88 Polri). Tugasku sebagai bagian dari masyarakat sipil itu untuk dipercaya, tugas polisi untuk curiga.”

Kalau ragu, rawan kembali ikut gerakan terorisme. “Catatannya program saya ini, tak bisa menjamin orang-orang ini kembali ke aksi kekerasan. Ada 1 orang yang ikut program ini, Sri Puji. Dulu dia kelola tambak. Karena di tambak, interaksi dengan manusia terbatas. Dia kemudian diajak “bermain” lagi. Ya sudah gabung lagi. Jadi gagal. Program ini tak menjamin. Oleh sebab itu program ini tak saya sebut deradikalisasi tapi disengagement.”

Sri Puji ditangkap Densus  88 Anti Teror di Semarang, pertengahan Desember 2010. Ia dituduh menyembunyikan buron kasus terorisme, Mustofa alias Abu Tholut.

Beda nasib dengan Yusuf yang kini mengelola restoran Dapoer Bistik, dan menyusul berikutnya toko roti Dapoer Bakery dan tempat nongkrong Cafe Kongkow. “Kalau secara teknis saya menghandle, manajer dari ketiga usaha ini. Saya sebagai pengawas ketiga usaha tsb. Kalau untuk masalah teknis lainnya, dimana saya bisa difungsikan saya bisa ambil alih misalnya menjadi kasir atau kadang-kadang berada di dapur.”

Psikolog Universitas Diponegoro Semarang, Dian Veronika Sakti pernah meneliti kondisi psikologis tahanan di penjara. Kata dia, di sel napi merasa terasing dan tak berguna bagi masyarakat. Karenanya pemerintah lebih serius memperhatikan bekas napi terorisme pasca keluar penjara. Tanpa arahan, mereka rawan kembali terlibat aksi teror. “Dia akan kembali lagi ke kelompoknya. Kenapa seseorang atau individu mau bergabung dalam sebuah kelompok teroris, karena adanya unsur keterasingan. Ada nilai-nilai yang dimiliki individu tersebut dan itu tidak difasilitasi oleh lingkungan.”

Program rehabilitasi napi terorisme seperti yang dilakukan Yayasan Prasasti Perdamaian, adalah langkah yang jitu, kata Dian. “Jika program seperti ini dilakukan sungguh-sungguh itu secara signifikan, secara statistik sekitar 80 persen kemudian itu berhasil membangun kembali para napi untuk berinteraksi kembali dengan normal ke masyarakat. Ketika individu merasa diperhatikan dan dihargai dia akan menemukan maknanya kembali sebagai manusia. Ini jadi pengalaman subyektif bagi napi, bahwa dirinya berharga.”

Salah satu bekas napi kasus terorisme, Yusuf, merasakan betul dampak positif dari program ini. “Bagi orang yang mengetahui saya sebagai seorang teroris, maka sosialisasi, berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain jadi lebih mudah. Selain itu dampak lainnya dari segi ekonomi saya bisa menafkahi keluarga. Ke depannya kita memiliki nilai yang baik dan berharga di mata keluarga dan lingkungan di tempat tinggal.”

Yusuf tak lagi pusing memikirkan aksi terorisme. Yang lebih penting baginya adalah menyajikan hidangan yang lezat untuk Dapoer Bistik yang dikelolanya. (MTBW/Foto: Koleksi pribadi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s