Occupy Jakarta: Kerah Putih Menolak Kapitalisme

Gerakan menduduki bursa  saham atau lebih dikenal Occupy Wall Street tak sekadar terjadi di negeri Paman Sam. Gerakan sosial kelas menengah Amerika itu juga merembet ke Jakarta.  Occupy Jakarta, sudah berlangsung sejak 19 Oktober silam. Kalangan professional yang tak puas dengan sistem kapitalisme tersebut, ramai-ramai menduduki halaman belakang Bursa Efek Indonesia. Taufik Wijaya ikut bergabung bersama para pekerja. Mendengarkan aspirasi dan harapan mereka.


“Hidup 99 persen rakyat yang melawan!  Hidup warga dunia yang melawan!  Kawan-kawan sekalian. Kita sudah mulai Occupy Jakarta. Kita adalah wakil 99 persen warga negara yang sadar yang memulai aksi Occupy Jakarta,”  teriak salah satu pengunjuk rasa. Puluhan profesional beragam profesi menggelar unjuk rasa di belakang gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta, Rabu (19/10).

Mereka tak saling mengenal. Hanya warga biasa. Media social macam twitter dan facebook lah, yang menyatukan mereka. Selain pekerja swasta, aksi ini diikuti segelintir aktivis LSM lokal dan asing. Sebuah spanduk berbahasa asing dipajang. Bunyinya: ”End Capitalism: We Are the 99 Procent Indonesian. Occupy Jakarta”. Akhiri Kapitalisme: Kami Bagian dari 99 Persen Warga Indonesia. Duduki Jakarta. Aksi demonstrasi ini dijaga puluhan aparat keamanan.Sembilan puluh sembilan persen adalah simbol mayoritas masyarakat yang menjadi korban ketidakadilan sistem kapitalisme. Para kapitalis atau pengusaha pemilik modal diwakili dengan angka 1 persen.

Seorang pengunjuk rasa berpakaian blouse hitam, maju membawa pengeras suara.  Katanya: “Kita berada di sini untuk menolak segala bentuk imperalisme dan monopoli oleh 1 persen populasi dunia. Kita menjadi bagian Occupy Wall Street pada 17 September 2011.”

Yang baru bicara tadi Sari Putri. Occupy Wall Street yang disebut Sari adalah sebuah gerakan massa di Amerika Serikat yang saat ini tengah berlangsung. Sejak 17 September lalu, ribuan demonstran menduduki Wall Street. Itu adalah nama kawasan di New York yang menjadi pusat bisnis dan bursa saham terbesar di dunia. Aksi ini kemudian dikenal dengan sebutan Occupy Wall Street. Mereka  mewakili mayoritas warga Amerika yang harus kehilangan pekerjaan, kehilangan asuransi sosial, dan naiknya harga-harga barang sebagai dampak krisis. Sementara pelaku bisnis raksasa yang dituding menjadi pemicu krisis mendapat dana talangan dari pemerintah.

Salah satu Inisiator Occupy Jakarta adalah Bob Sulaiman. Ia mengenakan kemeja lengan panjang putih, berdasi hitam dan celana panjang hitam. Direktur salah satu perusahaan minyak dan gas itu, mengatakan Occupy Jakarta terinspirasi dari Occupy Wall Street. “Ya memang terinspirasi. Tapi terinspirasi lebih pada memanfaatkan momentumnya. Bukan terinspirasi karena alasan yang sama. Karena di sana kelas menengahnya pun sudah banyak yang tak bekerja. Sudah merasakan dampaknya. Kalau di sini kan belum terasa sekali. Kita ingin membuktikan bahwa kapitalisme telah gagal. Lets move on. Lets change!. ”

Oleh sebab itu, kata Sari Putri, Bursa Efek Indonesia sebagai simbol kapitalisme, sengaja mereka duduki. “Karena itu adalah simbol penjualan saham, obligasi, currency dll. Dan kita tahu bahwa yang berhubungan dengan kapital itu ada di sini. Ini simbol financial.”

Terik matahari memanggang tubuh pengunjuk rasa. Mereka tak surut. Sambil duduk melingkar, demonstran bernyanyi bersama-sama,  lagu “Darah Juang. “Mereka dirampas haknya, tergusur dan lapar bunda relakan darah juang kami…”

Setiap peserta bebas bicara mengartikan kapitalisme dari sudut pandang masing-masing. “Hidup 99 persen. Hidup masyarakat yang melawan dominasi kapitalisme! Saya hadir di sini akan menyerukan tuntutan perempuan. Karena perempuan merasa tak pernah aman di tengah sistem kapitalisme saat ini. Sistem kapitalisme menentukan standar kecantikan kami. Sistem kapitalisme menentukan kami harus pakai apa. Bukan-bukan sistem ini yang perempuan mau..,” tegas Dian.

“Kawan-kawan semua kapitalisme di Indonesia lebih buruk dibanding negara asalnya. Karena kapitalisme  di Indonesia berkawin dengan oligarki politik. Meraup  hak para pekerja. Yang menyebabkan politik upah murah terjadi,” ujar peserta lainnya.

Intinya, mereka menilai sistem ekonomi kapitalisme telah merugikan. Dan perlu diganti dengan sistem ekonomi lain yang lebih adil dan berpihak kepada rakyat.

“Duduki BEI, maskotnya adalah 99 persen melawan. Jadi kalau ada yang mau datang atas nama diri sendiri, organisasi sendiri….,” seru seorang demonstran. Gerakan duduki Bursa Efek Indonesia, kata Bob Sulaiman, rencananya berlangsung selama sebulan hingga  19 November nanti. “Kita ingin bangunkan kelas menengah. Para pemikir. Kalau kita tak di sini mereka tak akan melek. Saya bukan ahli ekonomi. Kita hanya punya ide. Kita buka jalan pemikiran-pemikiran bisa masuk. Bagaimana kita bisa berubah di masa datang. Itu saja,” paparnya.

Quo Vadis Occupy Jakarta?

Aktivitas bisnis di SCBD Sudirman, Jakarta baru berdenyut. Kamis pagi (20/10)   sejumlah pekerja lokal dan asing, mulai menyambangi kantor mereka. Gedung Bursa Efek Indonesia, berdiri di pusat bisnis terpadu itu

Di halaman belakang pusat pasar saham nasional itu, tiga orang tengah sibuk memasang spanduk. Ini hari kedua gerakan duduki Bursa Efek atau Occupy Jakarta. . Saya menemui salah satu pengunjuk rasa “Saya Pitono Adi. Bapak rumah tangga. Saya bekerja lepas sebagai penulis,” ujarnya.

Istrinya bekerja di salah satu perusahaan swasta. Bapak dua anak ini mengaku ekonomi rumah tangganya relatif mapan. Ia ikut bergabung dalam Occupy Jakarta, karena gundah dengan situasi sosial-ekonomi yang timpang. Ajakan bergabung muncul dari situs jejaring sosial yang ia baca.

Kata Pitono sistem kapitalisme membuat biaya pendidikan dan kesehatan melonjak. Kaum miskin semakin sulit mengakses dua kebutuhan itu. Kapitalisme melahirkan ketidakadilan.  “Kapitalisme ciri utamanya menurut saya penguasaan segelintir orang atas sebagian besar sumber daya kehidupan masyarakat. Menurut saya sedemikian parah 99 persen warga yang tak bisa mengakses pelayanan publik yang baik, pelayanan kesehatan yang baik,” jelas Pitono. Dia beralasan  bergabung di Occupy Jakarta karena  punya kepentingan khususnya dalam pendidikan. “Itu supaya ke depan biaya pendidikan bisa di akses semua lapisan masyarakat…”

Sari Putri adalah salah satu penggagas Occupy Jakarta. Dia bekerja di salah satu sekolah asing  sebagai ahli gizi anak-anak. Manager tersebut menjelaskan  tujuan  gerakan. “Memberikan pendidikan yang jujur kepada rakyat  bahwa selama ini kita hidup dalam ilusi. Misalnya industri sektor riil kita dihajar produk luar negeri dengan harga murah. Pertanian kita dihajar juga, kita itu negara agraris tapi masih impor. Seperti beras. Sekarang garam. Bayangkan garam mesti impor. Kita ini kan negara maritim? ”

Sari menilai  sistem kapitalisme belum berpihak kepada mayoritas pekerja.  “Jadi dimulai dengan penemuan-penemuan kita pekerja tak nyaman. Pekerja yang merasa kurang dihargai. Penghargaan kurang. Upah tak mengacu kepada UU No 13/2003 ketika pasal 92 mengatakan upah harus sejalan dengan kemampuan perusahaan. Jadi kalau perusahaan untung semakin besar, itu mestinya sejalan dengan itu. Tetapi ini tidak, hanya berdasarkan sebagai inflasi.”

Lewat perusahaan tambang asing yang beroperasi di nusantara, kapitalisme sukses menghisap kekayaan alam  Indonesia. Kembali Sari Putri. “Yang lagi ramai sekarang Freeport. Itu berapa ton emas yang kabur dibawa ke luar negeri. Padahal emas itu cadangannya terbesar mungkin di dunia. Dan gak ada yang lebih berharga di dunia ini. Cuma dua hal dalam ekonomi sumber aset itu minyak dan emas. Nah kalau emas dan minyak dikuasai asing untuk rakyat kita apa? Hanya jadi pekerja, kuli saja. Contohnya di Freeport. Akhirnya apa? Kapitalisme itu melahirkan kekerasan dan intimidasi.”

Intinya sistem kapitalisme lebih banyak mudharatnya. Untuk itu, tegasnya perlu ditolak. Lewat Occupy Jakarta Sari berharap para pemikir atau ahli ekonomi ikut bergabung. Menyampaikan gagasan dan merumuskan sistem ekonomi baru yang lebih adil bagi 99 persen, mayoritas rakyat.   “Nasib kita itu harus kita ubah. Bagaimana caranya? yang kita lawan ini kekuatan besar. Kita tak bicara gulingkan presiden kita tak bicara reshuffle, we don’t care about that! Itu gak ngefek bagi kesejahteraan yang berkeadilan dan berprikemanusiaan. Kalau sistem (kapitalisme-red) itu  masih dipertahankan).”

Bagi pemerhati ekonomi, Yanuar Rizky gerakan anti Wall Street yang sudah mendunia diperkirakan belum akan berdampak  ke Indonesia. Meski dia tak menampik gerakan menolak kapitalisme, sudah mulai menggeliat di sebagian kelas menengah. “Sebagian kecil kelas menengah ya. Karena sebagian kecil kelas menengah kita juga menikmati euforia pasar keuangan kita yang masih bagus. Jadi artinya, bahwa upah kita rendah, bahwa kita dalam tanda petik itu dikuasai oleh sistem neo-liberalisme, isu-isu itu. Itu iya. Tapi di masyarakat banyak itu sudah terlalu retorika. Karena, kalau hidup dalam upah murah, hidup dalam ketidakpastian itu sudah sehari-hari mereka. Seperti yang saya bilang tadi, di Eropa tidak biasa seperti itu.”

Meski gerakan Occupy Jakarta diicibir dan diragukan mampu menggulingkan sistem kapitalisme, Sari Putri tak goyah. Ia yakin meski hari ini tak tumbang, kelak sistem itu akan hancur dengan sendirinya.  “Memang berat ya. Membuat kita tidak yakin, akan (kemampuan -red) diri kita sendiri. Kita tahu sejarah itu dimulai dari hal-hal yang skeptis. Dulu pun kita tak yakin manusia bisa ke bulan atau terbang. Its Ok.  Itu dinamika.”

Kampanye menolak kapitalisme terus mereka suarakan. Sari, Pitono dan pekerja lainnya bertekad akan menduduki Bursa Efek Indonesia selama satu bulan! “Pendudukan membutuhkan kehadiran bukan klik di FB (Facebook). Kemudian bersama kawan-kawan lain yang hadir merumuskan gagasan yang bisa membuat gerakan ini bertahan dan membesar,” tegas Pitono.

Akankah gerakan menumbangkan sistem kapitalisme yang telah menggurita itu membesar dan mendapat dukungan? “Hidup 99 persen rakyat yang melawan! (hidup…) Hidup warga dunia yang melawan!” teriak seorang demonstran. (MTBW)


Iklan