KRIPIK PISANG LAMPUNG. Berkunjung ke salah satu sentra usaha kecil menengah makanan kripik pisang di Bandar Lampung. Pekerja di kawasan Segalamider, Bandar Lampung–umumnya warga lokal–tengah mengupas & menggoreng pisang kepok. Bisnis rumahan di sepanjang Jalan Pagaralam ini mulai tumbuh sejak 2007. Menghidupi ratusan mungkin ribuan orang di wilayah tersebut. Jika bertandang ke tanah Sang Bumi Ruwai Jurai jangan lupa mampir & membeli buah tangan khas dari provinsi di Selatan Sumatra.

View on Path

INSPIRASI DARI QUEST. Anchor (penyiar) dan jurnalis senior kenamaan CNN Atlanta, AS Richard Quest berbagi pengalaman, Sabtu (21/11). Di hadapan jurnalis Transmedia Group, dua pesannya yang melekat di benak kurang lebihnya seperti ini. “Kau bekerja di sebuah ‘brand’ perusahaan global besar, bukan berarti nama mu akan ikut besar. Perlu kerja keras dengan karya jurnalistik berkualitas, agar namamu ikut besar. Dan pesan Quest tanpa kesan menggurui: “Jadilah diri sendiri, jangan pernah ‘copy’ atau meniru karya besar orang lain”. Thank you sir!

View on Path

Punya kenangan dengan film ini? Kalau saya pada dekade 80 sd 90-an saban memasuki akhir bulan September “diwajibkan” sekolah menyimaknya di TVRI. Karena durasinya yang panjang lebih dari 2 jam tak pernah tuntas menonton. Salah satu film propaganda & sebagian adegannya hasil rekayasa. Kajian studi ilmiah sampai liputan media dan testimoni pelaku sejarah menguatkan kesimpulan tsb. Orde Baru tahu persis film berbiaya Rp 800 juta yang disutradarai Arifin C Noer ini salah satu medium efektif untuk diseminasi informasi ke tengah masyarakat.

https://www.facebook.com/CNNIndonesia/posts/976074472415624

View on Path

Ilham Aidit dan Polemik Permintaan Maaf Korban’65 | #50Tahun65

Oleh: M.Taufik Budi Wijaya

Pukul 8 pagi di Kawah Upas,  Gunung Tangkuban Perahu, Bandung, Jawa Barat, tahun 1983. Komandan Operasi Pendidikan Dasar Kelompok Pendaki Gunung dan Penempuh Rimba Wanadri, Ilham Aidit tengah sibuk menyiapkan pelantikan anggota baru Wanadri.  Acara pelantikan dihadiri bekas Komandan Resimen Para Komando Angkatan Darat, RPKAD Sarwo Edhie Wibowo. Pasca Gerakan 30 September, Sarwo adalah pemimpin operasi militer  pemberantasan kader dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). G30S adalah tragedi berdarah yang terjadi pada 30 September malam, dimana 6 jendral  dan 1 kapten TNI tewas dibunuh. PKI dianggap sebagai dalang pelakunya.    

Mengetahui kehadiran Sarwo, Ilham langsung menghampiri dan menyalami anggota kehormatan Wanadri  tersebut. Sarwo kemudian mengajak bicara empat mata. Mereka kemudian menyingkir dari keramaian. Ilham masih ingat ucapan yang disampaikan Sarwo. ”Ketika itu adalah tugas untuk saya. Ketika itu saya menjalaninya dengan penuh keyakinan, bahwa yang saya lakukan itu adalah sesuatu yang benar,”  tutur Ilham menirukan ucapan Sarwo. Ilham yang kini berusia 56  tahun, paham Sarwo Edhie tengah bercerita  tentang tugasnya pasca Peristiwa September 1965 meletus.

Sarwo Edhie kemudian meminta Ilham memahami posisinya saat itu. “Ketika itu saya menyambut uluran tangannya dan  kita berjabat erat. Dia kembali mendekap. Dan saya bilang, Ya Pak Sarwo saya bisa memahami,” kenang Ilham kepada penulis  pada sebuah wawancara Oktober 2010 silam.
Pertemuan  dan permintaan maaf Sarwo Edhie itu kata anak mendiang Ketua Komite Pusat PKI, Dipa Nusantara Aidit itu disebutnya  sebagai rekonsiliasi personal. Pertemuan tersebut sangat bermakna bagi kelanjutan hidupnya. Ilham menggangap ada kesan penyesalan yang pernah dilakukan petinggi TNI Angkatan Darat itu saat memimpin pasukannya menumpas kelompok komunis.
Sejumlah kesaksian menyebutkan gelombang pembunuhan massal sepanjang 1965-1967 di Pulau Jawa dan Bali melibatkan masyarakat di tingkat lokal. Mengutip mantan anggota Komnas HAM, Stanley Adi Prasetyo operasi pembersihan ini dilakukan  secara brutal, tanpa mengindahkan hukum dan penghormatan hak asasi (Soe Hok Gie, Sekali Lagi, 2009, halaman 346).  
Akibat aksi yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan tersebut  sejumlah  peneliti dan ahli sejarah  memperkirakan 500.000 sampai 3.000.000 anggota PKI sampai simpatisannya terbunuh.  Selain korban jiwa, anak-cucu dan keluarga  anggota PKI beserta simpatisan sampai yang dituduh  komunis  menderita seumur hidup. Mereka misalnya dipenjara tanpa proses peradilan,  mengalami diskriminasi memperoleh pekerjaan sampai dikucilkan dari lingkungan sosial.   

“Dendam Sejarah”

Setiap kali kalender menginjak bulan September, ingatan langsung melayang ke salah satu sejarah kelam negeri ini. Tahun ini menginjak peringatan ke-50. Berbagai kalangan  memperingati dan memaknai peristiwa tersebut dengan cara masing-masing.
Salah satu yang menarik dicermati seputar peristiwa’65 adalah sikap pemerintah yang tak mau meminta maaf pada korban G30S. Ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haidar Nashir usai menemui Presiden Jokowi di Istana Negara seperti dikutip dari CNN Indonesia ‬ (23/9).  Meski demikian, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan pemerintah akan mengupayakan rekonsiliasi terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia berat dalam tragedi berdarah tersebut. Langkah terakhir ini patut disambut baik. Namun permohonan maaf juga tak kalah penting.  
Permintaan maaf  kepada korban dan keluarganya tentu  tidak langsung menyelesaikan luka lama yang dialami para korban ’65 dan keluarganya. Tapi setidaknya upaya ini menunjukan niat baik pemerintah mengakui kesalahan masa lalu yang membuat jutaan orang menderita. Langkah simbolik itu bukan berarti pemerintah memaafkan atau membenarkan aksi ideologis PKI  yang tak kalah keji kepada lawan-lawan politiknya. Fakta sejarah itu tak bisa dikesampingkan. Memaafkan tapi tak melupakan.   
Selanjutnya yang   tak kalah penting  pemerintah segera menyelesaikan ketidakadilan yang dialami korban.  Proses rekonsiliasi, rehabilitasi,  dan  kompensasi ini bisa diakomodasi lewat Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (RUU KKR) yang masih mandeg. Mengikis dendam sejarah dan memulai lembaran hidup baru  memang tak mudah. Tapi jika itu dilakukan dengan jiwa besar, kelak  jadi catatan dan pelajaran sejarah yang baik bagi anak bangsa.

Jakarta, 30 September 2015

View on Path

Tak terkejut baca hasil penelitian tentang kegiatan Pramuka yang dimuat Kompas hari ini. Isinya lebih dari enam puluh persen anak muda di kota besar (Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan dan Makassar) tak tertarik ikut kegiatan Pramuka. Alasannya beragam, seperti kegiatan yang biasa saja sampai “jadoel” alias ketinggalan zaman –di era digital seperti saat ini–he he he.

Penghujung tahun 80-an sampai awal 90-an saat berseragam putih biru dan abu-abu. Rasanya bangga ikut ekstrakulikuler Pramuka di SMPN-2 dan SMAN-2 Tanjungkarang, Bandar Lampung. Berkemah, mendaki gunung, menyusuri hutan, jurit malam sampai baris-berbaris beberapa kegiatan yang diikuti.

Bangga mengenakan seragam coklat tanah lengkap dengan ragam atribut plus dasi kombinasi merah-putih. Bukan karena dogma nasionalisme. Tak juga karena dipaksa pihak sekolah. Ikut dengan ikhlas dan senang bersama puluhan teman lain menghabiskan waktu beraktivitas di sekolah atau alam bebas pada Minggu pagi sampai siang/petang terkadang sampai menginap.

Selepas lulus SMA kegiatan–yang makin tak popular di generasi Y–ini punya segudang manfaat. Rasanya tak muluk. Setidaknya yang saya alami saat kost dan kuliah di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat hingga berkeluarga saat ini. Hidup lebih mandiri dan disiplin, mengasah sikap kritis, lebih peduli pada sesama, menumbuhkan semangat kepemimpinan sampai cinta tanah air beberapa yang bisa disebut.

Dan hari ini bertepatan dengan Hari Pramuka, anak sulung saya Ahmad Dito Aryodamar Azca (11) terpilih bersama 10 siswa lainnya mewakili pihak sekolah mengikuti upacara di kantor kecamatan. Akhir pekan nanti bocah ini akan berkemah di Buper Cibubur. Seperti saya ia ikut Pramuka karena kesadaran sendiri. Tak dipaksa orang tua atau gurunya.

Salam Pramuka! Selamat hari Praja Muda Karana ke 54 tahun🙂

View on Path